Rabu, 26 Maret 2025

Point Penting Lanjutan Al-Imam Taqiyuddin al-Subki


فإن قلت : الظاهر أن عمر رضي الله عنه إنَّما جمعهم على العدد الذي صلاه النَّبيُّ؟


"Jika engkau berkata: 'Dhohirnya bahwa Sidna Umar hanya mengumpulkan mereka berdasarkan jumlah rakaat yang pernah dikerjakan oleh Nabi ﷺ,'


قلت : قد ذكرنا عن النَّبيِّ ﷺ إسنادين فيهما مقال، في أحدهما : ثَمَانُ وَالوِتْرُ»، وهو موافق لإحدى عشرة، وفي الآخر : عِشْرُونَ وَالوِتْرُ»، وهو موافق لثلاث وعشرين، فلعل عمر فَهِمَ من النَّبِيِّ أنَّ ذلك لا يتقيد [١/٤٤] بعدد؛ لأنه قيام ليل يجوز فيه أن يزيد وينقص :


فقدر أولاً الإحدى عشرة؛ لأنها غالب صلاة النبي ﷺ بالليل، على ما يدل عليه حديث عائشة .


Aku (al-Imam Taqiyuddin al-Subki) menjawab:

Kami telah menyebutkan dua sanad dari Nabi ﷺ, yang masing-masing memiliki kritik dalam periwayatannya. Dalam salah satunya disebutkan delapan rakaat ditambah witir, yang sesuai dengan jumlah sebelas rakaat. Dalam riwayat lainnya disebutkan dua puluh rakaat ditambah witir, yang sesuai dengan jumlah dua puluh tiga rakaat.


Oleh karena itu, bisa jadi Umar memahami dari Nabi ﷺ bahwa salat malam itu tidak terikat dengan jumlah tertentu, karena merupakan bagian dari qiyamullail, yang boleh ditambah atau dikurangi.


Maka, awalnya Umar menentukan sebelas rakaat, karena itu adalah jumlah yang paling sering dikerjakan oleh Nabi ﷺ dalam salat malam, sebagaimana ditunjukkan dalam hadis Aisyah Radhiyallahu 'anha."


وقدر ثانياً ثلاثاً وعشرين، إما لنص عنده فيها، وإما لضرب من الاجتهاد مع علمه عن النَّبيِّ ﷺ أنه لا حجر فيها .


Kemudian Umar menentukan jumlah dua puluh tiga rakaat, baik karena ada dalil yang sampai kepadanya mengenai jumlah itu, atau karena ijtihadnya sendiri, dengan pengetahuannya bahwa Nabi ﷺ tidak membatasi jumlah rakaat salat malam.


ولو لم يكن في المرجحات لثلاث وعشرين إلا أنها عمل الخلف والسلف، لكان كافياً أن لا يُعدل عنه إلى أخبار الآحاد إذا خالفته، فكيف ولا مخالفة؛ لأنا لا نمنع الاقتصار على إحدى عشر (١)، ولكنا نختار الأخذ بثلاث وعشرين للإجماع عليها، وأنها من قسم الحسن الذي أطبق الناس على فعله تقرباً به إلى الله تعالى من زمان عمر بن الخطاب إلى اليوم، فإما أن يكون عند عمر والصحابة نص في ذلك عن النبي ، وإما ضرب من وجوه الاجتهاد لا يلزمنا الكشف عنه .


Seandainya satu-satunya alasan yang menguatkan pendapat dua puluh tiga rakaat adalah karena itu merupakan amalan generasi khalaf dan generasi salaf, maka itu sudah cukup untuk tidak berpaling dari jumlah tersebut hanya karena hadis-hadis ahad yang bertentangan dengannya. Terlebih lagi, tidak ada pertentangan dalam hal ini, karena kami tidak melarang seseorang untuk hanya mengerjakan sebelas rakaat, tetapi kami lebih memilih dua puluh tiga rakaat karena adanya ijma’ atasnya.

Salat dengan jumlah itu termasuk dalam kategori hasan, karena seluruh umat telah bersepakat mengerjakannya sebagai bentuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah sejak zaman Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu hingga hari ini. Maka, bisa jadi Umar dan para sahabat memiliki dalil dari Nabi ﷺ tentang jumlah tersebut, atau mereka sampai pada jumlah itu melalui bentuk ijtihad tertentu yang tidak mesti bagi kita untuk menelusuri alasannya.


وقال الحليمي تحمله : «يحتمل القيام بعشرين ركعة : أن يكون وجهه : أن عامة سنن الليل والنهار سوى الوتر لما كانت عشر ركعات كما ذكر ابن عمر، ضعفت في شهر رمضان ؛ إذ كان الوقت وقت جد وتشمير . قال : ويحتمل أن يكون ذلك مأخوذاً من أصل آخر، وهو أن أغلب صلاة رسول الله ﷺ في غير رمضان من الليل كان إحدى عشر ركعة آخرها وتراً، فرأوا أن يجعلوا هذا أصلاً ، ثمَّ يُضَعْفُوه في شهر رمضان؛ لأنَّ النَّبي سن قيامه، فلما أراد القيام فيه، غُلْظَ بأن صار سُنَّةً بعد أن كان في غيره تطوعاً، غلظ عدد الركعات فيه بالتضعيف، فصار عشرين بعد أن كان في غيره عشراً (۲)، انتهى ما قاله الحليمي، 


Al-Halimi memahami kemungkinan salat 20 rakaat memiliki alasan berikut:


Mayoritas sunah dalam salat malam dan siang hari selain witir berjumlah 10 rakaat, sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu Umar. Maka, jumlah rakaat dalam bulan Ramadan dilipatgandakan, karena waktu tersebut adalah masa untuk lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah dan meningkatkan amal saleh.


Beliau berkata: Bisa jadi juga diambil dari dasar yang lain, yaitu: kebanyakan salat malam Nabi ﷺ di luar Ramadan adalah 11 rakaat, dengan witir sebagai penutupnya. 

Maka, para sahabat menjadikan jumlah ini sebagai dasar, kemudian melipatgandakannya dalam bulan Ramadan karena Nabi ﷺ sendiri telah mensyariatkan salat malam di bulan tersebut. Ketika ibadah qiyamullail di bulan Ramadan dianjurkan lebih kuat, jumlah rakaatnya pun diperbanyak, dari yang sebelumnya 10 rakaat menjadi 20 rakaat. 

Demikianlah pendapat Al-Halimi.


ولا شك فيه (۳) احتمال، واحتمال أن يكون ذلك مأخوذاً عن رسول الله ، وأن يكون عمر اجتهد فيه :

- لما كانت الزيادة في قيام الليل غير ممنوعة.

- وفَتْحُ النَّبيِّ ﷺ الزيادة بصلاته إحدى عشرة في وقت، وثلاث عشرة في وقت، إن لم يُثبت عدد أزيد.


Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan kemungkinan yang masuk akal.


Selain itu, bisa jadi jumlah tersebut berasal dari petunjuk Rasulullah ﷺ, atau hasil ijtihad Umar:

(1) Karena penambahan jumlah rakaat dalam salat malam bukanlah sesuatu yang terlarang.

(2) Nabi ﷺ membuka peluang untuk menambah jumlah rakaat dengan pernah mengerjakan salat malam sebanyak sebelas rakaat di suatu waktu, dan tiga belas rakaat di waktu lain, jika memang tidak ada riwayat valid yang menunjukkan jumlah lebih dari itu.


فإن قلت : أليس يكون ذلك مخالفاً لما ثبت في الصحيح، عن أبي سلمة بن عبد الرحمن، أنه سأل عائشة هنا ، كيف كانت صلاة رسول الله في رمضان؟، فقالت : مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعَاً ، فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعَاً، فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثَاً ، قَالَتْ عَائِشَةُ : فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، تَنَام قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ ، فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلَا يَنَامُ [٤٤ / ب] قَلْبِي (١)؟


Jika engkau bertanya: Bukankah ini bertentangan dengan hadis yang sahih dari Abu Salamah bin Abdurrahman, yang bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu 'anha tentang salat Nabi ﷺ di bulan Ramadan?


Aisyah menjawab:


"Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah dalam salat malamnya, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, jangan tanyakan tentang keindahan dan panjangnya, lalu beliau salat empat rakaat lagi, jangan tanyakan tentang keindahan dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat witir. Aisyah berkata: Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum berwitir?' Maka beliau menjawab, 'Wahai Aisyah, kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur.’"


قلت : لا مخالفة؛ لأنَّ المخالفة ترك مأمور أو فعل منهي، واقتصاره على ذلك العدد لم يكن لمنع الزيادة ولا لكراهتها، نعم، موافقته أولى لو تحققنا أنه طول حياته لم يزد على ذلك، ولا أشار إلى الزيادة، ولا دل عليها دليل، وهذا لا سبيل إليه مع اتفاق الصحابة على إقامة هذا العدد.


Aku jawab:

Tidak ada pertentangan dalam hal ini. Karena pertentangan (mukhālafah) hanya terjadi jika ada perintah yang ditinggalkan atau larangan yang dilanggar. Sedangkan Nabi ﷺ membatasi jumlah itu bukan karena melarang adanya penambahan rakaat, atau karena tidak menyukainya. Benar, mengikuti jumlah sebelas rakaat memang lebih utama jika kita benar-benar yakin bahwa beliau tidak pernah menambahnya sepanjang hidupnya, tidak pernah memberi isyarat tentang penambahan, dan tidak ada dalil yang menunjukkan bolehnya menambahnya. Namun, hal ini tidak mungkin, karena para sahabat justru sepakat menambah jumlah rakaat dalam salat tarawih.


وإن لم نسلم اتفاق الصحابة، فاتفاق من بعدهم، وإجماع المسلمين في كل عصر حجة، ولم يكن الله ليجمع عباده على خطأ، ونحن لسنا على يقين من أنَّ النَّبِيَّ ﷺ لم يزد على ذلك، وعائشة لم تكن معه في تلك الليالي التي صلى بالناس في المسجد فيها ، فكيف انضبط لها عدد صلاته؟


Dan jika kita tidak bisa memastikan bahwa para sahabat sepakat atas jumlah tertentu, maka kesepakatan generasi setelah mereka serta ijma’ umat Islam di setiap zaman adalah hujjah (dalil kuat).


Allah tidak mungkin membiarkan umat-Nya bersepakat dalam kesalahan.


Selain itu, kita juga tidak memiliki kepastian bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menambah dari jumlah sebelas rakaat. Aisyah tidak selalu bersama Nabi ﷺ di setiap malam saat beliau mengimami para sahabat di masjid. Bagaimana mungkin ia bisa memastikan jumlah rakaat tersebut secara pasti?


ولحديثها المذكور محامل :

أحدها : أن الغالب من أحواله ذلك .

الثاني : أن يكون مرادها الوتر الذي كان يصليه بعد قيامه من النوم،

Hadis Sayyidah Aisyah ini bisa dipahami dalam beberapa kemungkinan:

(1) Bahwa yang paling sering beliau lakukan adalah sebelas rakaat, tetapi bukan berarti beliau tidak pernah menambahnya.

(2) Yang dimaksud Sayyidah Aisyah adalah salat witir yang Nabi ﷺ kerjakan setelah bangun dari tidur.


~Bersambung~

Lanjutan Penjelasan Hadits Riwayat Sayyidah Aisyah Vs Riwayat-riwayat yang lain

 

ولا أعني بالخلاف في ذلك، أنَّ مِنَ العلماء من جعلها إحدى عشرة بعد أن استقرت عشرين في زمن عمر، وإنما أشرت إلى الفعل الأول في زمن عمر، على ما تقدم في اختلاف الرواية فيه، وإلى ما نقل عن مالك أنه قال في مختصر ما ليس في المختصر : الذي يأخذ بنفسي في ذلك، الذي جمع عليه عمر الناس، إحدى عشرة ركعة بالوتر، وهي صلاة النبي ، وإحدى عشرة من ثلاث عشرة قريب (۱) ، قال (۲) اللخمي من المالكية .


Dan yang saya maksud dengan perbedaan dalam hal ini bukanlah bahwa ada di antara para ulama yang menjadikannya sebelas rakaat setelah jumlahnya tetap dua puluh (rakaat) pada masa Umar. Akan tetapi, saya merujuk pada praktik awal di masa Umar, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya mengenai perbedaan riwayat tentang hal itu, serta pada apa yang dinukil dari Imam Malik bahwa beliau berkata dalam Mukhtashar Ma Laysa fi al-Mukhtashar: "Yang aku pegang dalam hal ini adalah apa yang Umar kumpulkan orang-orang atasnya, yaitu sebelas rakaat dengan witir, dan itulah shalat Nabi. Sebelas rakaat tidak jauh dari tiga belas." Demikian pendapat Al-Lakhmi dari mazhab Maliki.


والذي عليه الناس اليوم مذهب الشافعي وأهل العراق.

وذكر ابن حبيب عن عمر أنه [١/٤٦] كان أمر أن يقام في رمضان بإحدى عشرة، ثم رجع إلى ثلاث وعشرين (۳).


Sementara itu, mazhab yang diikuti oleh orang-orang hari ini adalah mazhab Syafi'i dan penduduk Irak.


Sedangkan, Ibnu Habib meriwayatkan dari Umar bahwa beliau awalnya memerintahkan agar shalat di bulan Ramadan dilakukan dengan sebelas rakaat, kemudian beliau kembali kepada jumlah dua puluh tiga rakaat."


قلت : وكذلك هو عمل السلف، وهو رواية يزيد بن رومان كما تقدم في الموطأ» ويزيد بن رومان لم يدرك زمان عمر ، لكنه عالم كبير، واعتضد برواية السائب بن يزيد عن عمر في عشرين، وقد تقدم أنها صحيحة، وبعمل السلف.


Komentarku:

Demikian pula itulah amalan para salaf, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yazid bin Ruman, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam Al-Muwaththa'. Yazid bin Ruman sendiri tidak sempat hidup pada zaman Umar, namun ia adalah seorang ulama besar. Riwayatnya diperkuat dengan riwayat As-Sa'ib bin Yazid dari Umar mengenai dua puluh rakaat, yang telah disebutkan sebelumnya bahwa riwayat tersebut sahih, serta diperkuat pula dengan amalan para salaf.


وروى أبو بكر بن أبي شيبة ، ثنا وكيع عن مالك بن أنس، عن يحيى بن سعيد : «أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَابِ الله [أَمَرَ رَجُلاً أَنْ يُصَلِّيَ بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً (٥) ، هذا مرسل كمرسل يزيد بن رومان ويحيى بن سعيد عالم كبير أيضاً .


Abu Bakr bin Abi Syaibah meriwayatkan, dari Waki', dari Malik bin Anas, dari Yahya bin Sa'id:


"Bahwa Umar bin Khattab memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka dengan dua puluh rakaat."


Riwayat ini berstatus mursal, sebagaimana riwayat mursal Yazid bin Ruman. Yahya bin Sa'id juga merupakan seorang ulama besar.


أخبرنا بهذا عن يحيى بن سعيد، أبو البقاء، صالح بن مختار ()، قراءة عليه وأنا أسمع، أنا أبو العباس أحمد بن عبد الدائم بن نعمة المقدسي (7)، قراءة عليه وأنا أسمع، أنا أبو الفرج، يحيى بن محمود بن سعد الثقفي (١) ، قراءة عليه وأنا أسمع، أنا الحافظ أبو القاسم، إسماعيل بن محمد بن الفضل التيمي (٢) الأصبهاني (۳) ، أنا أحمد بن علي بن خلف (٤)، أنا حمزة بن عبد العزيز المهلبي (٥) ، أنا أبو القاسم عبيد الله بن إبراهيم بن بالويه (٦)، أبنا أبو زكريا، يحيى بن محمد بن يحيى (٧) ، ثنا أبو بكر ابن أبي شيبة، ثنا وكيع، عن مالك بن أنس، عن يحيى بن سعيد فذكره.


Riwayat ini disampaikan kepada kami dari Yahya bin Sa‘id oleh Abu al-Baqa’ Shalih bin Mukhtar—dibacakan di hadapannya sementara aku mendengar—dari Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abd al-Da’im bin Ni‘mah al-Maqdisi—dibacakan di hadapannya sementara aku mendengar—dari Abu al-Faraj Yahya bin Mahmud bin Sa‘d al-Tsaqafi—dibacakan di hadapannya sementara aku mendengar—dari al-Hafizh Abu al-Qasim Isma‘il bin Muhammad bin al-Fadl al-Taimi al-Asbahani—dari Ahmad bin ‘Ali bin Khalf—dari Hamzah bin ‘Abd al-‘Aziz al-Mahlabi—dari Abu al-Qasim ‘Ubaidullah bin Ibrahim bin Baluwaih—dari Abu Zakariya Yahya bin Muhammad bin Yahya—dari Abu Bakr bin Abi Shaybah—dari Waki‘—dari Malik bin Anas—dari Yahya bin Sa‘id, lalu ia menyebutkan riwayat tersebut.


وبالإسناد إلى وكيع، عن حسن بن صالح، عن عمرو بن قيس، عن أبي الحسناء: «أَنَّ عَلِيَّاً له أَمَرَ رَجُلاً يُصَلِّي بِهِمْ فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةٌ ) .


Dan dengan sanad yang bersambung hingga Waki‘, dari Hasan bin Shalih, dari ‘Amr bin Qais, dari Abu al-Hasna’:


"Bahwa Ali memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka dalam shalat di bulan Ramadan sebanyak dua puluh rakaat."


وبالإسناد الأول إلى ابن أبي شيبة، ثنا حميد بن عبد الرحمن، عن حسن يعني بن صالح ، عن عبد العزيز بن رفيع قال : «كَانَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ له يُصَلِّي بِالنَّاسِ فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً (1) .


Dan dengan sanad yang sama hingga Ibnu Abi Syaibah, dari Hamid bin Abdurrahman, dari Hasan—yaitu Ibn Shalih—dari Abdul Aziz bin Rafi‘, ia berkata:


"Ubay bin Ka‘b biasa mengimami orang-orang dalam shalat di bulan Ramadan dengan dua puluh rakaat."


وبه إلى وكيع، عن نافع قال : «كَانَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ يُصَلِّي بِنَا فِي رَمَضَانَ عِشْرِين (۲) (۳) .


Dan dengan sanad yang sama hingga Waki‘, dari Nafi‘, ia berkata:


"Ibnu Abi Mulaykah biasa mengimami kami dalam shalat di bulan Ramadan dengan dua puluh rakaat."


وروى ابن أبي شيبة في مصنفه»، ثنا وكيع، عن سفيان، عن أبي إسحاق، عن عبد الله بن قيس، عن شُتَيرِ بنِ شَكَلٍ : أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالوِتْرَ (٤) .


Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Al-Mushannaf, dari Waki‘, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Abdullah bin Qais, dari Shutayr bin Shakal:


"Bahwa ia biasa shalat di bulan Ramadan dengan dua puluh rakaat, ditambah witir."


وعن غندر، عن شعبة، عن خلف عن ربيع - وأثنى عليه خيراً ـ، عن أبي البَحْتَرِي : «أَنَّهُ يُصَلِّي خَمْسَ تَرْوِيحَاتٍ فِي رَمَضَانَ، وَيُوتِرُ بِثَلَاثٍ (٥) .


Dan dari Ghundar, dari Syu‘bah, dari Khalf, dari Rabi‘—dan ia memujinya dengan kebaikan—dari Abu al-Bakhtari:


"Bahwa ia biasa shalat lima tarwihat (yaitu dua puluh rakaat) di bulan Ramadan, dan berwitir dengan tiga rakaat."


وعن ابن نمير، عن عبد الملك، عن عطاء قال : «أَدْرَكْتُ النَّاسَ وَهُمْ (٦) يُصَلُّونَ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةٌ بِالوِتْرِ) (7) .


Dan dari Ibnu Numayr, dari Abdul Malik, dari ‘Atha’, ia berkata:


"Aku mendapati orang-orang shalat sebanyak dua puluh tiga rakaat dengan witir."


وعن الفضل بن دكين عن سعيد بن أبي عبيد : أَنَّ عَلِيَّ بْنَ رَبِيعَةَ كَانَ يُصَلِّي بِهِمْ فِي رَمَضَانَ خَمْسَ تَرْوِيْحَاتٍ، وَيُوتِرُ بِثَلَاثٍ ) .


Dan dari Al-Fadl bin Dukayn, dari Sa‘id bin Abi ‘Ubayd:


"Bahwa Ali bin Rabi‘ah biasa mengimami mereka dalam shalat di bulan Ramadan dengan lima tarwihat (yaitu dua puluh rakaat) dan berwitir dengan tiga rakaat."


وروى سعيد بن منصور في مصنفه»، عن هشيم، أنا يونس بن عبيد، قال : شَهِدْتُ النَّاسَ بِالبَصْرَةِ قَبْلَ فِتْنَةِ ابْنِ الْأَشْعَثِ، [٤٦ / ب] وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ - صَاحِبِ رَسُولَ الله ﷺ - يَؤُمُّهُمْ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، وَسَعِيدُ بْنُ أَبِي الحَسَنِ، وَعَمْرُانُ العَبْدِيُّ، فَكَانُوا يُصَلُّونَ خَمْسَ تَرْوِيْحَاتٍ، وَكَانُوا لَا يَقْنُتُونَ (١) إِلَّا فِي النِّصْفِ الثَّانِي، وَكَانُوا يَخْتِمُونَ القُرْآنَ مَرَّتَيْنِ (۲) ، قوله : يَخْتِمُونَ القُرْآنَ مَرَّتَيْنِ»، يعني في الشهر .


Sa‘id bin Mansur meriwayatkan dalam Al-Mushannaf, dari Hushaym, dari Yunus bin ‘Ubayd, ia berkata:


"Aku menyaksikan orang-orang di Basrah sebelum fitnah Ibnu al-Ash‘ath, ketika Abdurrahman bin Abi Bakrah—sahabat Rasulullah ﷺ—mengimami mereka dalam shalat di bulan Ramadan, bersama Sa‘id bin Abi al-Hasan dan ‘Imran al-‘Abdi. Mereka biasa shalat lima tarwihat (yaitu dua puluh rakaat), dan mereka tidak berqunut kecuali di paruh kedua. Mereka juga biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali."


Maksud dari "mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali" adalah dalam satu bulan Ramadan.


وروى سعيد بن منصور أيضاً، عن أبي معاوية، ثنا حجاج، عن أبي إسحاق، عن الحارث : «أَنَّهُ كَانَ يَؤُمُّ قَوْمَهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِاللَّيْلِ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً، وَيُوتِرُ بِثَلَاثٍ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ (۳)، وكذا رواه ابن أبي شيبة.


Dan Sa‘id bin Mansur juga meriwayatkan, dari Abu Ma‘awiyah, dari Hajjaj, dari Abu Ishaq, dari al-Harits:


"Bahwa ia biasa mengimami kaumnya di bulan Ramadan pada malam hari dengan dua puluh rakaat, berwitir dengan tiga rakaat, dan berqunut sebelum ruku‘."


Riwayat ini juga sama seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah.


فانظر هذه الآثار العظيمة، كلها على عشرين، مع الرواية الصحيحة عن السائب بن يزيد .


Oleh karena itu, perhatikanlah bahwa semua riwayat agung ini menunjukkan jumlah dua puluh rakaat, sejalan dengan riwayat yang sahih dari As-Sa'ib bin Yazid.


فالرواية عن السائب إذا صحت :


. إما مرجوحة؛ لكثرة الرواة بخلافها .


. وإما محمولة على ما قاله ابن حبيب أنها كانت في أول الأمر، ثم ترجع إلى ثلاث وعشرين، فهذا هو الذي استقر عليه الأمر .


Jika riwayat dari As-Sa'ib bin Yazid sahih, maka:


Bisa dianggap lemah (marjuh) karena banyaknya para perawi yang menyebutkan riwayat yang berbeda.


Atau bisa ditafsirkan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Habib bahwa riwayat tersebut berlaku pada awalnya, kemudian jumlah rakaat kembali menjadi dua puluh tiga, dan inilah yang akhirnya menjadi amalan yang tetap.


وقول مالك في مختصر ما ليس في المختصر : الذي يأخذ بنفسي»، إلى آخره، ليس نفياً للثلاث والعشرين، وإنَّما قَصَد: الذي جمع عليه عُمَرُ، كما دل عليه أول كلامه، وعبر عنه بإحدى عشرة؛ لأنها إحدى الروايتين وقَصَد بجملة كلامه إلى استكراه ما نشأ عليه فوجده بالمدينة من التسع والثلاثين، وقال: «لا أدري من أحدث هذا الركوع الكثير»، ومع ذلك أخذ به ونهى عن تركه لأنه وجد الناس عليه .


Sedangkan pendapat Imam Malik dalam Mukhtasar Ma Laysa fi al-Mukhtasar: "Yang aku pegang dalam hal ini..." dan seterusnya, bukanlah penolakan terhadap jumlah dua puluh tiga rakaat, tetapi yang dimaksud adalah jumlah yang dikumpulkan oleh Umar, sebagaimana yang dijelaskan dalam awal perkataannya. Ia menyebutkan sebelas rakaat karena itu adalah salah satu dari dua riwayat. Dengan keseluruhan pernyataannya, ia bermaksud mengkritik apa yang ia temui di Madinah, yaitu amalan 39 rakaat, dan berkata: "Aku tidak tahu siapa yang memulai banyaknya ruku' ini." Namun demikian, ia tetap mengikuti dan melarang meninggalkannya karena ia melihat bahwa itulah amalan yang dilakukan oleh banyak orang.


أما الثلاث والعشرون - مع العلم بأنها عن عمر - فمعاذ الله أن يرغب عنها مالك، أو أن يأخذ بنفسه غيرها، وهو من أشد الناس اتباعاً لعمر . فإذا رأينا شخصاً في هذا الزمان أخذ بإحدى عشرة في حق نفسه، لم تنكر عليه في فعله ؛ لأن ذلك من النوافل، من شاء زاد ومن شاء نقص أو ترك، لكنا نحذره من الرغبة عما فعله عمر أو اعتقاد أنه ليس من السُّنَّة ؛ لأنَّ في ذلك إزراء عليه وعلى سائر الصحابة، وعلى السلف والخلف . 


Adapun dua puluh tiga rakaat—yang diketahui bahwa itu berasal dari Sidna Umar—maka tidak mungkin bagi Imam Malik untuk menolaknya atau berpegang pada pendapat yang berbeda, karena beliau adalah salah seorang yang paling kuat mengikuti Umar. Jika kita melihat seseorang di zaman ini melaksanakan sebelas rakaat untuk dirinya sendiri, maka kita tidak akan mengingkari perbuatannya, karena itu termasuk dalam kategori sunnah, yang mana seseorang boleh menambah, mengurangi, atau meninggalkan sesuai kehendaknya. Namun, kita harus memperingatkan orang tersebut untuk tidak meninggalkan apa yang dilakukan oleh Umar atau berkeyakinan bahwa itu bukan bagian dari sunnah, karena hal tersebut akan merendahkan Umar, para sahabat, serta para salaf dan khalaf.


وأما إذا أراد شخص أن يأخذ بذلك في المساجد العامة، ويغير ما عليه العمل من ثلاث وعشرين إلى إحدى عشرة منعناه وأخذنا على يديه، ونسبناه إلى الجهل بآثار السلف والبدعة لمجانبته سنة الخلفاء الراشدين .


Adapun jika seseorang ingin melaksanakan hal tersebut di masjid-masjid umum, dan mengganti apa yang telah menjadi amalan (shalat tarawih + witir) dua puluh tiga rakaat menjadi sebelas rakaat, maka kami akan melarangnya dan menghentikan tindakannya. Kami akan menganggapnya sebagai orang yang tidak mengetahui jejak-jejak salaf dan sebagai pengikut bid'ah karena menjauhi sunnah Khulafaur Rasyidin.


وأنا أعذر من فتح عينيه ولم يسمع إلا حديث عائشة : «أَنَّهُ ﷺ مَا زَادَ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ، » إذا استشكل ما عليه الناس إذا طلب له دليلاً، أما بعد سماع هذه الآثار والعلم بأن ذلك شعار [١/٤٧] جميع الأمصار في جميع الأعصار، فلا عذر.


Aku bisa memaklumi orang yang membuka kedua matanya dan hanya mendengar hadits Aisyah: "Bahwa Rasulullah ﷺ tidak menambah lebih dari sebelas rakaat," jika ia merasa musykil/bingung dengan amalan yang dilakukan oleh orang banyak dan mencari dalil untuk itu. Namun, setelah mendengar semua riwayat ini dan mengetahui bahwa amalan tersebut adalah syiar yang diterapkan lintas kota dan masa, maka tidak ada alasan lagi untuk mengingkarinya.

 Harus anti bid'ah, tapi jangan membabibuta seperti Wahabi.

Harus toleran, tapi jangan kebablasan seperti kelompok liberal.

Harus cinta ahlul bait, tapi jangan fanatik buta seperti Syiah.

Harus nahi mungkar, tapi jangan menjadi ekstrem dan radikal.

Harus lemah lembut, tapi jangan menjadi permisif dan tidak tegas.

Harus mengikuti perkembangan, tapi jangan mengabaikan nilai-nilai.

Semua harus proporsional, jangan berlebihan...

Profesi Di Masa Khulafaur Rasyidin, Sebuah Kritik Terhadap Zakat Profesi

 

Syaikh Yusuf Qardhawi dan yang sepemikiran dengan beliau sering berkata bahwa di zaman dahulu profesi jasa tidak terkena zakat sebab hasilnya sedikit, beda dengan profesi di zaman sekarang. Saya tidak tahu profesi yang dimaksud itu apa, mungkin tukang bangunan dan pekerja kasar lainnya yang itu pun sampai sekarang memang rendah gajinya.


Namun yang jelas, tampaknya mereka semua lupa bahwa profesi yang terhormat dari dulu hingga kini tidak pernah kecil bayarannya.  Kita lihat misalnya profesi hakim di masa Khulafaur Rasyidin sebagaimana disebutkan dalam buku 'Ashr al-Khilafah al-Rasyidah Muhawalah Linaqd al-Riwayah al-Tarikhiyah Wifqa Manhaj al-Muhadditsin karya Akram al-Umari, gaji bulanannya sebagai berikut:


1. Salman bin Rabi'ah al-Bahili di Kufah digaji 500 dirham

2. Syuraih di Kufah digaji 100 dirham

3. Abdullah bin Mas'ud di Kufah 100 dirham per bulan plus daging seperempat kambing per hari 

4. Utsman bin Qais di Mesir digaji 200 dinar

5. Qais bin Abi al-Ash di Mesir digaji 200 dinar


Bila memakai kurs sekarang, satu dirham setara kurang lebih 3 gram perak. Harga perak saat ini sekitar 52.000 per gram. Jadi gaji Salman adalah 3 x 500 x 52.000 = 78.000.000. Sedangkan gaji Syuraih dan Ibnu Mas'ud sebanyak 3 x 100 x 52.000 = 15.600.000.


Adapun gaji Hakim Mesir sebanyak memakai dinar yang setara emas seberat 4,25 gr. Kalau memakai kurs harga emas sekarang, bisa sangat fantastis nilainya. Dengan harga emas 1.700.000, berarti gaji mereka adalah 340.000.000. Kalau kita memakai kurs dinar dan dirham di masa Nabi, menurut Ibnu Khaldun satu dinar setara 12 dirham sehingga 200 dinar sama dengan 200 x 3 x 52000 x 12 =  374.400.000,- makin besar lagi. 


Karena nama-nama di atas bukan hakim biasa, coba kita bandingkan mereka dengan hakim agung saat ini. Di Indonesia sekarang, menurut data google, hakim agung bisa membawa pulang gaji sebesar 500 juta per bulannya karena adanya Tunjangan Penanganan Perkara. Artinya dari dulu hingga kini gaji hakim memang besar.


Itu baru hakim, belum lagi para gubernur yang secara de facto menjadi raja-raja kecil saat itu. Meski saya tidak menemukan besaran pastinya, namun pastinya gaji mereka jauh lebih besar. 


Apakah mereka semua yang gajinya sangat jauh di atas UMR itu dikenakan potongan zakat profesi? jawabannya, tidak. Sebesar apa pun gajinya, tidak ada yang namanya zakat profesi selama lebih dari 1 milenium sejarah umat islam. Bukan karena para ulama tidak tahu bahwa ada beberapa profesi bergaji fantastis, tapi karena mereka tahu tidak ada landasan syariat untuk mengambil paksa harta mereka atas nama zakat. Karena itu, alasan pengusung zakat profesi terlalu dibesar-besarkan untuk mengesankan pekerjaan jasa di masa lalu hampir seluruhnya kecil. Padahal, baik sekarang atau pun dulu, gaji bulanan pegawai negara memang relatif besar bila dibanding buruh kasar. 


Sekarang, dengan diperkenalkannya pungutan bid'ah bernama zakat profesi, maka seluruh gaji pegawai dipotong atas nama zakat. Meskipun teorinya hanya untuk mereka yang gajinya mencapai nishab emas, tapi faktanya di lapangan sering tidak ada nishab-nishaban; Yang gajinya di bawah 2 juta pun ada yang terkena potongan. Ditambah lagi banyak yang perhitungannya dihitung dari bruto, bukan netto gaji yang dikurangi kebutuhan hidup, dengan mengikuti fatwa sesat seorang ustadz, sehingga zakat profesi sangat tidak adil. Yang begini ini bukan lagi zakat tapi PPN namanya. 


Selain itu, sebenarnya tidak perlu data rumit untuk memahami kelemahan zakat profesi. Cukup logika sederhana saja sudah terlihat bahwa basisnya adalah khayalan bukan realitas. Lihat saja misalnya seorang pegawai yang mendapat take home pay sebesar 10 juta per bulan. Ini secara teori sudah mencapai nishab emas bila gajinya dikalkulasi selama satu tahun. Dengan mengutip keterangan di situs Baznas yang berjudul "zakat penghasilan", untuk contoh gaji 10 juta per bulan pada tahun 2025, terkena zakat sebanyak 2,5% per tahun yang dibayarkan setiap bulan sebesar 250.000,-/ bulan. Kalkulasi Baznas ini mengandaikan orang tersebut mempunyai investasi emas senilai lebih dari 85 gram yang tersimpan selama satu tahun (haul). Coba tanya di mana wujud investasi emas itu? Tidak ada, sebab itu hanya khayalan. Realistasnya, tabungan orang itu di akhir tahun paling hanya beberapa juta saja, kalau tidak habis. Jangankan benar-benar punya investasi emas senilai 85 gram, berkhayal pun si pegawai tersebut tidak sanggup, tapi rupanya khayalan itu pun menjadi basis dia terkena pungutan zakat. Kalau bukan sesat pikir maka apa namanya ini?


Kalau kita beralih ke konsep zakat profesi yang "lebih waras", tidak sesesat yang tadi, zakat profesi dihitung dari netto. Jadi, yang dikalkulasi adalah sisa penghasilan setelah dikurangi semua kebutuhan bulanan. Bila misalnya gaji 10 juta per bulan hanya tersisa satu juta per bulan, maka setahun hanya terkumpul 12 juta sehingga tidak wajib zakat. Bila setahun sisa gaji seseorang betul-betul terkumpul uang senilai minimal emas 85 gram, barulah wajib zakat. Namun, ini sama-sama mengkhayal punya emas 85 gram lebih sebagai investasi. Kenyataannya, semua tahu bahwa uang senilai emas tidak sama dengan punya barang emas itu sendiri. Uang itu mengalami penurunan harga, beda dengan emas yang memang instrumen investasi. Ujungnya sama-sama mengkhayal punya emas padahal emasnya tidak ada. 


Belum lagi, secara fikih aturan zakat emas adalah emasnya harus mengendap selama satu tahun penuh. Kalau misalnya anda membeli emas seberat 85 gram lalu setelah delapan bulan dijual untuk dibelikan emas lain, maka hitungan haulnya harus direset menjadi nol bulan kembali. Dalam zakat profesi, reset haul ini tidak ada sebab basisnya adalah khayalan. Pokoknya dikhayalkan setahun terkumpul endapan gaji senilai 85 gram emas, maka wajib zakat meskipun realitasnya tidak pernah ada endapan uang tersebut sebab uangnya selalu mengalir keluar masuk. Ohya, reset haul ini sangat penting dalam fikih sehingga di literatur fikih dijelaskan bahwa orang yang memiliki puluhan kilo emas tidak wajib zakat emas bila masing-masing emasnya selalu terjual sebelum setahun dan berganti barang emas lain. Jadi, kaidah haul ini harus berbasis realitas barangnya benar-benar ada dan dimiliki secara penuh selama setahun penuh, barulah wajib zakat.


Selain itu, mewajibkan zakat profesi sama artinya menuduh para ulama islam selama lebih dari satu milenium tidak paham fungsi zakat. Selain itu, mereka juga menuduh umat islam sepanjang sejarah yang punya gaji banyak telah memakan harta haram sebab tidak menunaikan zakatnya. Ini adlah konsekuensi dari membuat aturan kewajiban baru yang tidak dikenal sebelumnya dalam sejarah.


Mungkin ada sebagian yang mengatakan bahwa pemikiran saya ini jumud terlalu terpaku pada teks fikih di masa lalu. Sebenarnya bukan demikian, kasusnya adalah saya, dan demikian juga para ulama sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga seabad lalu, tidak mau ada orang yang memakan harta orang lain tanpa status kehalalan yang jelas. Zakat itu bersifat paksaan, bukan sukarela. Mewajibkan zakat pada seseorang sama dengan mewajibkan "merampas" harta orang tersebut dan itu dosa besar bila tanpa dasar hukum syariat yang jelas, apalagi kalau hanya berbasis khayalan seolah orang tersebut mempunyai investasi berupa emas sebanyak 85 gram yang mengendap selama setahun, padahal emasnya tidak ada. Sangat mengherankan bagaimana bisa banyak orang sekarang begitu terobsesinya untuk merampas harta orang lain dan makan dari harta orang kaya tanpa ada legalitas nash syariat sehingga menuduh penentang zakat profesi sebagai pemikir jumud? 


Selasa, 04 Maret 2025

Doa Kamilin

Ini doa yang disebut doa kamilin yang di baca setelah shalat tarawih:


اَلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِهٖ وَ صَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ 

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّيْنِ شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

الْفَاتِحَة

Sabtu, 01 Maret 2025

PUASA DAN KISAH MAJUSI



Miris, mungkin inilah kata yang menggambarkan keadaan orang yang berpuasa hari ini, ada yang sudah terawih tapi tidak jadi puasa, karena ada berita tidak terlihat hilal, ada yang sudah puasa tapi kemudian membuka puasanya karena orang bilang tidak sah puasa karena belum masuk waktu, lalu di warung orang duduk ngopi kembali sambil mensyiarkan bahwa tidak ada puasa hari ini.


Ada sebuah kisah dalam kitab "Durratun Nasihin", walaupun kesahihan kisah ini bisa diperdebatkan , tapi setidaknya bisa menjadi iktibar pelajaran bagi kita untuk saling hormat menghormati terutama kepada orang yang sedang menjalankan puasa.

Begini ceritanya:


Pada suatu hari di bulan Ramadhan yang terik, ada seorang lelaki Majusi (penyembah api) yang pergi ke pasar bersama anaknya. Siang itu, matahari Ramadhan begitu menyengat sehingga membuat suhu udara kota semakin panas, menambah rasa lelah dan haus bagi kaum Muslimin yang sedang menjalankan ibadah puasa.


Di tengah kesibukan pasar dan hiruk pikuknya aktivitas jual beli, anak si Majusi tersebut tanpa sengaja makan di depan umum. Bagi anak itu, makan di siang hari adalah hal yang biasa karena mereka bukan pemeluk agama Islam dan tidak menjalankan ibadah puasa. Namun, hal ini justru mendapat perhatian dari sang ayah.


Ketika melihat putranya menyantap makanan dengan lahapnya tanpa menghiraukan kaum Muslim di sekitar yang sedang menahan lapar dan dahaga, sang ayah lantas memukul anaknya. Ia memarahi anaknya dengan berkata, "Mengapa engkau tidak menjaga kehormatan kaum Muslimin pada bulan Ramadhan? Seharusnya engkau pandai menghormati umat Islam yang sedang menjalankan puasa, tapi mengapa kamu tidak tahu diri dengan cara makan di tengah pasar?


Tindakan sang ayah Majusi ini menunjukkan sikap penghormatan yang tinggi terhadap umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Meskipun ia bukan seorang Muslim, ia memahami pentingnya menghormati praktik keagamaan orang lain dan mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada anaknya. Inilah bentuk etika sosial yang tinggi, yang menunjukkan bahwa menghormati perbedaan adalah bagian dari nilai-nilai kemanusiaan.


Tak lama setelah kejadian tersebut, lelaki Majusi itu meninggal dunia. Pada malam harinya, ada seorang ulama yang bermimpi melihat lelaki Majusi tersebut berada di surga, dikelilingi nikmat yang tiada tara. Melihat pemandangan ini, sang ulama merasa heran dan bertanya, "Wahai fulan, bukankah engkau seorang Majusi (penyembah api)? Mengapa engkau bisa berada di surga?"


Lelaki yang dahulu Majusi itu menjawab, "Memang benar, dulu aku adalah seorang Majusi. Tetapi, saat tiba waktu kematian, aku mendengar suara dari atas, 'Wahai para Malaikat-Ku, jangan kalian biarkan orang itu sebagai Majusi. Muliakanlah dia dengan Islam karena telah menghormati bulan Ramadhan'. Sebelum aku meninggal, Allah memuliakanku dengan memberi hidayah sehingga aku memeluk agama Islam sebab aku memuliakan bulan Ramadhan dengan menjaga kehormatan kaum Muslimin yang menjalankan ibadah puasa."


Kisah ini menegaskan bahwa orang Majusi yang bukan Islam saja bisa menghormati orang yang sedang berpuasa, lalu kenapa kita yang sesama Islam tidak bisa menghargai sesama Islam, karena semua tahu bahwa hari ini ada orang yang puasa ada yang tidak, apa susahnya sekedar menghormati saja mereka yang berpuasa, ini yang sangat kita sayangkan kenapa harus ada embel embel orang yang puasa hari ini puasanya tidak sah dan sebagainya yang membuat orang yang berpuasa jadi kacau dan membatalkan puasa nya.

Miris...


Pirak Timu, 1 Maret 2025

Kamis, 02 Januari 2025

DOA UNTUK ARWAH

Berikut ini adalah doa untuk arwah yang biasa di baca pada acara samadiah.

 أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ، حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ، حَمْدًا يُّوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، 

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

اللَّهُمَّ اَوْصِلْ مِثْلَ ثَوَاَبِ مَا قَرَأْنَاهُ مِنْ الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَلْنَا مِنْ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَمَا صَلَّيْنَا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً مِنَّا وَاصِلَةً وَرَحْمَةً مِنْكَ نَازِلَةً وَبَرَكَةً اِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 وَاِلَى حَضَرَاتٍ جَمِيْعِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَ اِلَى  الْمَلاَءِىكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا، خُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ ................بِنْ 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ فِتْنَتِهٖ وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

اَللَّهُمَّ اِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ اِحْسَانِهِ وَاِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجِنَانِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهُ حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيْرَانِ

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيْنَا وميتنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغَيْرنَا وَكَبِيْرنَا وَذَكَرنَا وَأَنْثَنَا 

اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيْمَانِ

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سًبْحَانَ رَبَّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. اَلْفَاتِحَةْ