فإن قلت : الظاهر أن عمر رضي الله عنه إنَّما جمعهم على العدد الذي صلاه النَّبيُّ؟
"Jika engkau berkata: 'Dhohirnya bahwa Sidna Umar hanya mengumpulkan mereka berdasarkan jumlah rakaat yang pernah dikerjakan oleh Nabi ﷺ,'
قلت : قد ذكرنا عن النَّبيِّ ﷺ إسنادين فيهما مقال، في أحدهما : ثَمَانُ وَالوِتْرُ»، وهو موافق لإحدى عشرة، وفي الآخر : عِشْرُونَ وَالوِتْرُ»، وهو موافق لثلاث وعشرين، فلعل عمر فَهِمَ من النَّبِيِّ أنَّ ذلك لا يتقيد [١/٤٤] بعدد؛ لأنه قيام ليل يجوز فيه أن يزيد وينقص :
فقدر أولاً الإحدى عشرة؛ لأنها غالب صلاة النبي ﷺ بالليل، على ما يدل عليه حديث عائشة .
Aku (al-Imam Taqiyuddin al-Subki) menjawab:
Kami telah menyebutkan dua sanad dari Nabi ﷺ, yang masing-masing memiliki kritik dalam periwayatannya. Dalam salah satunya disebutkan delapan rakaat ditambah witir, yang sesuai dengan jumlah sebelas rakaat. Dalam riwayat lainnya disebutkan dua puluh rakaat ditambah witir, yang sesuai dengan jumlah dua puluh tiga rakaat.
Oleh karena itu, bisa jadi Umar memahami dari Nabi ﷺ bahwa salat malam itu tidak terikat dengan jumlah tertentu, karena merupakan bagian dari qiyamullail, yang boleh ditambah atau dikurangi.
Maka, awalnya Umar menentukan sebelas rakaat, karena itu adalah jumlah yang paling sering dikerjakan oleh Nabi ﷺ dalam salat malam, sebagaimana ditunjukkan dalam hadis Aisyah Radhiyallahu 'anha."
وقدر ثانياً ثلاثاً وعشرين، إما لنص عنده فيها، وإما لضرب من الاجتهاد مع علمه عن النَّبيِّ ﷺ أنه لا حجر فيها .
Kemudian Umar menentukan jumlah dua puluh tiga rakaat, baik karena ada dalil yang sampai kepadanya mengenai jumlah itu, atau karena ijtihadnya sendiri, dengan pengetahuannya bahwa Nabi ﷺ tidak membatasi jumlah rakaat salat malam.
ولو لم يكن في المرجحات لثلاث وعشرين إلا أنها عمل الخلف والسلف، لكان كافياً أن لا يُعدل عنه إلى أخبار الآحاد إذا خالفته، فكيف ولا مخالفة؛ لأنا لا نمنع الاقتصار على إحدى عشر (١)، ولكنا نختار الأخذ بثلاث وعشرين للإجماع عليها، وأنها من قسم الحسن الذي أطبق الناس على فعله تقرباً به إلى الله تعالى من زمان عمر بن الخطاب إلى اليوم، فإما أن يكون عند عمر والصحابة نص في ذلك عن النبي ، وإما ضرب من وجوه الاجتهاد لا يلزمنا الكشف عنه .
Seandainya satu-satunya alasan yang menguatkan pendapat dua puluh tiga rakaat adalah karena itu merupakan amalan generasi khalaf dan generasi salaf, maka itu sudah cukup untuk tidak berpaling dari jumlah tersebut hanya karena hadis-hadis ahad yang bertentangan dengannya. Terlebih lagi, tidak ada pertentangan dalam hal ini, karena kami tidak melarang seseorang untuk hanya mengerjakan sebelas rakaat, tetapi kami lebih memilih dua puluh tiga rakaat karena adanya ijma’ atasnya.
Salat dengan jumlah itu termasuk dalam kategori hasan, karena seluruh umat telah bersepakat mengerjakannya sebagai bentuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah sejak zaman Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu hingga hari ini. Maka, bisa jadi Umar dan para sahabat memiliki dalil dari Nabi ﷺ tentang jumlah tersebut, atau mereka sampai pada jumlah itu melalui bentuk ijtihad tertentu yang tidak mesti bagi kita untuk menelusuri alasannya.
وقال الحليمي تحمله : «يحتمل القيام بعشرين ركعة : أن يكون وجهه : أن عامة سنن الليل والنهار سوى الوتر لما كانت عشر ركعات كما ذكر ابن عمر، ضعفت في شهر رمضان ؛ إذ كان الوقت وقت جد وتشمير . قال : ويحتمل أن يكون ذلك مأخوذاً من أصل آخر، وهو أن أغلب صلاة رسول الله ﷺ في غير رمضان من الليل كان إحدى عشر ركعة آخرها وتراً، فرأوا أن يجعلوا هذا أصلاً ، ثمَّ يُضَعْفُوه في شهر رمضان؛ لأنَّ النَّبي سن قيامه، فلما أراد القيام فيه، غُلْظَ بأن صار سُنَّةً بعد أن كان في غيره تطوعاً، غلظ عدد الركعات فيه بالتضعيف، فصار عشرين بعد أن كان في غيره عشراً (۲)، انتهى ما قاله الحليمي،
Al-Halimi memahami kemungkinan salat 20 rakaat memiliki alasan berikut:
Mayoritas sunah dalam salat malam dan siang hari selain witir berjumlah 10 rakaat, sebagaimana disebutkan dalam hadis Ibnu Umar. Maka, jumlah rakaat dalam bulan Ramadan dilipatgandakan, karena waktu tersebut adalah masa untuk lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah dan meningkatkan amal saleh.
Beliau berkata: Bisa jadi juga diambil dari dasar yang lain, yaitu: kebanyakan salat malam Nabi ﷺ di luar Ramadan adalah 11 rakaat, dengan witir sebagai penutupnya.
Maka, para sahabat menjadikan jumlah ini sebagai dasar, kemudian melipatgandakannya dalam bulan Ramadan karena Nabi ﷺ sendiri telah mensyariatkan salat malam di bulan tersebut. Ketika ibadah qiyamullail di bulan Ramadan dianjurkan lebih kuat, jumlah rakaatnya pun diperbanyak, dari yang sebelumnya 10 rakaat menjadi 20 rakaat.
Demikianlah pendapat Al-Halimi.
ولا شك فيه (۳) احتمال، واحتمال أن يكون ذلك مأخوذاً عن رسول الله ، وأن يكون عمر اجتهد فيه :
- لما كانت الزيادة في قيام الليل غير ممنوعة.
- وفَتْحُ النَّبيِّ ﷺ الزيادة بصلاته إحدى عشرة في وقت، وثلاث عشرة في وقت، إن لم يُثبت عدد أزيد.
Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan kemungkinan yang masuk akal.
Selain itu, bisa jadi jumlah tersebut berasal dari petunjuk Rasulullah ﷺ, atau hasil ijtihad Umar:
(1) Karena penambahan jumlah rakaat dalam salat malam bukanlah sesuatu yang terlarang.
(2) Nabi ﷺ membuka peluang untuk menambah jumlah rakaat dengan pernah mengerjakan salat malam sebanyak sebelas rakaat di suatu waktu, dan tiga belas rakaat di waktu lain, jika memang tidak ada riwayat valid yang menunjukkan jumlah lebih dari itu.
فإن قلت : أليس يكون ذلك مخالفاً لما ثبت في الصحيح، عن أبي سلمة بن عبد الرحمن، أنه سأل عائشة هنا ، كيف كانت صلاة رسول الله في رمضان؟، فقالت : مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعَاً ، فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعَاً، فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثَاً ، قَالَتْ عَائِشَةُ : فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ، تَنَام قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ ، فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ، وَلَا يَنَامُ [٤٤ / ب] قَلْبِي (١)؟
Jika engkau bertanya: Bukankah ini bertentangan dengan hadis yang sahih dari Abu Salamah bin Abdurrahman, yang bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu 'anha tentang salat Nabi ﷺ di bulan Ramadan?
Aisyah menjawab:
"Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah dalam salat malamnya, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat, jangan tanyakan tentang keindahan dan panjangnya, lalu beliau salat empat rakaat lagi, jangan tanyakan tentang keindahan dan panjangnya, kemudian beliau salat tiga rakaat witir. Aisyah berkata: Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum berwitir?' Maka beliau menjawab, 'Wahai Aisyah, kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur.’"
قلت : لا مخالفة؛ لأنَّ المخالفة ترك مأمور أو فعل منهي، واقتصاره على ذلك العدد لم يكن لمنع الزيادة ولا لكراهتها، نعم، موافقته أولى لو تحققنا أنه طول حياته لم يزد على ذلك، ولا أشار إلى الزيادة، ولا دل عليها دليل، وهذا لا سبيل إليه مع اتفاق الصحابة على إقامة هذا العدد.
Aku jawab:
Tidak ada pertentangan dalam hal ini. Karena pertentangan (mukhālafah) hanya terjadi jika ada perintah yang ditinggalkan atau larangan yang dilanggar. Sedangkan Nabi ﷺ membatasi jumlah itu bukan karena melarang adanya penambahan rakaat, atau karena tidak menyukainya. Benar, mengikuti jumlah sebelas rakaat memang lebih utama jika kita benar-benar yakin bahwa beliau tidak pernah menambahnya sepanjang hidupnya, tidak pernah memberi isyarat tentang penambahan, dan tidak ada dalil yang menunjukkan bolehnya menambahnya. Namun, hal ini tidak mungkin, karena para sahabat justru sepakat menambah jumlah rakaat dalam salat tarawih.
وإن لم نسلم اتفاق الصحابة، فاتفاق من بعدهم، وإجماع المسلمين في كل عصر حجة، ولم يكن الله ليجمع عباده على خطأ، ونحن لسنا على يقين من أنَّ النَّبِيَّ ﷺ لم يزد على ذلك، وعائشة لم تكن معه في تلك الليالي التي صلى بالناس في المسجد فيها ، فكيف انضبط لها عدد صلاته؟
Dan jika kita tidak bisa memastikan bahwa para sahabat sepakat atas jumlah tertentu, maka kesepakatan generasi setelah mereka serta ijma’ umat Islam di setiap zaman adalah hujjah (dalil kuat).
Allah tidak mungkin membiarkan umat-Nya bersepakat dalam kesalahan.
Selain itu, kita juga tidak memiliki kepastian bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menambah dari jumlah sebelas rakaat. Aisyah tidak selalu bersama Nabi ﷺ di setiap malam saat beliau mengimami para sahabat di masjid. Bagaimana mungkin ia bisa memastikan jumlah rakaat tersebut secara pasti?
ولحديثها المذكور محامل :
أحدها : أن الغالب من أحواله ذلك .
الثاني : أن يكون مرادها الوتر الذي كان يصليه بعد قيامه من النوم،
Hadis Sayyidah Aisyah ini bisa dipahami dalam beberapa kemungkinan:
(1) Bahwa yang paling sering beliau lakukan adalah sebelas rakaat, tetapi bukan berarti beliau tidak pernah menambahnya.
(2) Yang dimaksud Sayyidah Aisyah adalah salat witir yang Nabi ﷺ kerjakan setelah bangun dari tidur.
~Bersambung~